
TL;DR
Ogan Komering Ilir (OKI) adalah kabupaten terluas di Sumatera Selatan dengan luas sekitar 17.071 km persegi dan 18 kecamatan. Ibu kotanya Kayu Agung, berjarak sekitar 45 menit dari Palembang lewat jalan tol. Ekonomi OKI bertumpu pada sektor pertanian yang menyumbang lebih dari 52% PDRB, dan kabupaten ini termasuk kawasan food estate nasional. OKI juga memiliki Suaka Margasatwa Padang Sugihan yang menjadi habitat 127 ekor gajah Sumatra, serta kekayaan budaya seperti tradisi Midang yang masih lestari hingga sekarang.
Kabupaten Ogan Komering Ilir membentang dari pesisir timur Sumatera Selatan hingga mendekati Kota Palembang. Dengan luas 17.071,33 km persegi, OKI bukan hanya kabupaten terluas di provinsinya, tapi juga salah satu wilayah paling beragam: ada rawa gambut, sungai-sungai besar, danau, hutan mangrove, sampai pulau kecil di Selat Bangka. Sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah berawa, dan karakter geografis inilah yang membentuk hampir semua aspek kehidupan masyarakatnya, dari mata pencaharian hingga tradisi.
Bagi banyak orang di luar Sumatera Selatan, nama Ogan Komering Ilir mungkin belum sering terdengar. Tapi bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana satu kabupaten bisa menjadi lumbung pangan sekaligus rumah bagi gajah Sumatra, OKI layak dikenal lebih jauh. Berikut profil lengkapnya, mulai dari geografi, sejarah, ekonomi, hingga budaya dan wisata.
Letak Geografis dan Wilayah Administratif Ogan Komering Ilir
Ogan Komering Ilir terletak di bagian timur Provinsi Sumatera Selatan, tepatnya antara 104°20′ hingga 106°00′ Bujur Timur dan 2°30′ sampai 4°15′ Lintang Selatan. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Palembang dan Kabupaten Banyuasin di utara, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur di selatan, Provinsi Lampung di tenggara, serta Selat Bangka dan Laut Jawa di timur.
Secara administratif, OKI terdiri dari 18 kecamatan dengan 314 desa dan 13 kelurahan. Ibu kotanya adalah Kecamatan Kayu Agung, yang termasuk dalam kawasan metropolitan Patungraya Agung bersama Palembang. Dari Palembang, Kayu Agung bisa dicapai sekitar 45 menit lewat jalan tol.
Sekitar 75% wilayah OKI berupa rawa. Kabupaten ini dialiri beberapa sungai besar: Sungai Komering yang mengalir dari Kecamatan Tanjung Lubuk hingga bermuara di Sungai Musi di Palembang, dan Sungai Mesuji yang menjadi perbatasan dengan Kabupaten Tulang Bawang, Lampung. Selain sungai, OKI juga punya beberapa danau penting seperti Danau Teluk Gelam dan Danau Teloko di Kayu Agung, serta lebak (rawa musiman) yang tersebar di beberapa kecamatan.
Iklim di OKI tergolong tropis basah dengan curah hujan rata-rata di atas 2.500 mm per tahun. Musim kemarau umumnya berlangsung April hingga September, sementara musim hujan jatuh antara Oktober hingga Maret. Suhu harian berkisar antara 21°C di malam hari hingga 36°C di siang hari.
Sejarah Pembentukan Kabupaten OKI
Wilayah yang kini menjadi Kabupaten Ogan Komering Ilir sudah menjadi bagian dari sistem pemerintahan jauh sebelum Indonesia merdeka. Di era kolonial Belanda, kawasan ini termasuk dalam Keresidenan Sumatera Selatan, tepatnya di bawah Afdeeling Palembang dan Tanah Datar. Wilayah OKI waktu itu mencakup Onder Afdeeling Komering Ilir dan Onder Afdeeling Ogan Ilir.
Setelah kemerdekaan, kedua Onder Afdeeling ini digabungkan menjadi satu kabupaten, yaitu Kabupaten Ogan Komering Ilir. Dasar hukum pembentukannya adalah UU Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sumatera Selatan. Pada masa Orde Baru, sistem pemerintahan marga yang selama ini mengatur kehidupan masyarakat dihapuskan dan diganti dengan sistem desa berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1979.
Perubahan besar terjadi pada tahun 2003. Berdasarkan UU Nomor 37 Tahun 2003, Kabupaten OKI dimekarkan menjadi dua: Kabupaten Ogan Komering Ilir (induk) dan Kabupaten Ogan Ilir dengan ibu kota di Inderalaya. Enam kecamatan dari wilayah barat OKI, yaitu Inderalaya, Pemulutan, Tanjung Raja, Tanjung Batu, Muara Kuang, dan Rantau Alai, menjadi bagian dari kabupaten baru tersebut.
Setelah pemekaran, OKI tersisa 12 kecamatan. Pada 2005, melalui Perda Nomor 5 Tahun 2005, dibentuk lagi 6 kecamatan baru sehingga jumlahnya menjadi 18 seperti sekarang. Pada 2024, dasar hukum OKI diperbarui melalui UU Nomor 94 Tahun 2024 yang menggantikan ketentuan lama dalam UU Nomor 28 Tahun 1959.
Ekonomi OKI: Pertanian sebagai Tulang Punggung
Ekonomi Kabupaten Ogan Komering Ilir pada tahun 2023 tumbuh 5,02% secara tahunan. Sektor yang paling dominan adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan, yang menyumbang 52,16% terhadap PDRB menurut BPS Kabupaten OKI. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional dan menunjukkan betapa sentralnya pertanian bagi kehidupan di kabupaten ini.
OKI termasuk dalam program strategis nasional food estate (lumbung pangan) di Sumatera Selatan. Luas lahan tanaman di kabupaten ini mencapai lebih dari 150.000 hektare, mencakup sawah irigasi, lahan lebak, pasang surut, dan tadah hujan. Lahan sawah irigasi saja seluas 5.650 hektare yang bisa ditanami padi dua hingga tiga kali setahun, dengan potensi produksi sekitar 65.000 ton gabah kering giling per tahun.
Kontribusi pertanian terhadap PDRB OKI justru terus menurun selama periode 2019 hingga 2023, sementara kontribusi industri pengolahan terus naik. Ini menandakan ekonomi OKI mulai bergeser, meski pertanian tetap mendominasi. Salah satu industri besar yang beroperasi di OKI adalah PT OKI Pulp and Paper di Kecamatan Air Sugihan, bagian dari grup APP Sinar Mas yang bergerak di industri kertas.
Tantangan utama sektor pertanian di OKI adalah alih fungsi lahan. Semakin banyak lahan pertanian yang berubah menjadi perkebunan kelapa sawit, perumahan, atau kegiatan non-pertanian lainnya. Kondisi ini membuat upaya mempertahankan status OKI sebagai lumbung pangan membutuhkan perhatian serius, terutama dalam hal pengelolaan pascapanen yang menurut pejabat daerah setempat masih perlu ditingkatkan.
Suku, Bahasa, dan Tradisi di Ogan Komering Ilir
Kabupaten OKI dihuni oleh beragam suku dan sub-suku. Penduduk asli tersebar dalam beberapa kelompok: Suku Kayuagung dan Pegagan di Kecamatan Kayuagung, Suku Bengkulah, Ogan, dan Komering di Kecamatan Tanjung Lubuk dan Teluk Gelam, serta Suku Pegagan di Kecamatan Pampangan dan Pangkalan Lampam. Di kecamatan-kecamatan bagian timur seperti Mesuji dan Air Sugihan, banyak juga penduduk pendatang dari Jawa, Sunda, dan Bali yang datang melalui program transmigrasi.
Tiap sub-suku memiliki bahasa dan dialek sendiri. Masyarakat di Kecamatan Tulung Selapan, misalnya, menggunakan bahasa Melayu, sementara masyarakat di Tanjung Lubuk sehari-hari berbahasa Komering. Keragaman ini juga tercermin dalam kesenian daerah: ada tari Penguton dan tari Sabung Ayam dari Kayuagung, tari Ngantak dari Tanjung Lubuk, hingga wayang kulit di kecamatan-kecamatan yang dihuni masyarakat Jawa.
Tradisi yang paling ikonik dari OKI adalah Midang Morge Siwe. Midang adalah tradisi arak-arakan di mana pasangan muda-mudi mengenakan pakaian adat Kayuagung dan berkeliling ke sembilan marga. Tradisi ini awalnya merupakan syarat dalam adat perkawinan, tapi sekarang sudah berkembang menjadi atraksi budaya tahunan dan menjadi salah satu daya tarik wisata utama kabupaten. Selain Midang, ada juga tradisi sarah, di mana pasangan yang baru menikah wajib bersilaturahmi ke seluruh keluarga pihak perempuan sambil membawa rantangan berisi makanan.
Suaka Margasatwa Padang Sugihan dan Konservasi Gajah
Salah satu aset paling berharga di OKI adalah Suaka Margasatwa Padang Sugihan, kawasan konservasi seluas sekitar 88.148 hektare yang terletak di perbatasan Kabupaten OKI dan Kabupaten Banyuasin. Kawasan ini ditetapkan sebagai suaka margasatwa melalui SK Menteri Kehutanan Nomor 76/Kpts-II/2001.
Padang Sugihan menjadi rumah bagi 127 ekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus), spesies yang berstatus terancam punah. Sebagian gajah di sini awalnya diselamatkan dari konflik dengan warga di berbagai wilayah, mulai dari Ogan Komering Ulu, Banyuasin, hingga Lampung. Dalam perkembangannya, gajah-gajah ini berkembang biak dengan baik di kawasan Padang Sugihan. Selain gajah, kawasan ini juga menjadi habitat beruang madu, rusa sambar, siamang, serta berbagai jenis burung seperti rangkong dan raja udang.
Ancaman terbesar bagi kawasan ini adalah kebakaran hutan. Pada 2015, kebakaran besar di Sumatera Selatan menghanguskan ratusan ribu hektare lahan, termasuk sebagian Suaka Margasatwa Padang Sugihan. Hampir setiap musim kemarau, kawasan gambut ini menghadapi risiko kebakaran, sebagian dipicu oleh praktik sonor (menanam padi di lahan gambut bekas terbakar) yang sudah dilakukan masyarakat sekitar selama puluhan tahun. Pemerintah Sumatera Selatan melarang praktik ini melalui Perda Nomor 8 Tahun 2016, meskipun penerapannya di lapangan masih menjadi tantangan karena sonor selama ini merupakan sumber penghidupan masyarakat.
Destinasi Wisata di Kabupaten OKI
OKI memang bukan nama yang langsung muncul dalam daftar destinasi wisata populer, tapi kabupaten ini punya beberapa tempat yang layak dikunjungi, terutama bagi Anda yang mencari suasana berbeda dari wisata mainstream.
Danau Teluk Gelam
Danau Teluk Gelam adalah danau kebanggaan OKI dan pernah menjadi venue olahraga air PON ke-16 pada tahun 2004. Danau ini menawarkan wahana seperti banana boat dan jet ski, dilengkapi area berkemah dan taman bermain. Lokasinya di Kecamatan Teluk Gelam, tidak terlalu jauh dari Kayu Agung.
Bukit Batu dan Legenda Si Pahit Lidah
Di Desa Bukit Batu, Kecamatan Pangkalan Lampam, terdapat situs budaya dengan formasi batu unik yang menurut legenda setempat merupakan peninggalan Serunting Sakti (Si Pahit Lidah). Ada Batu Lesung, Batu Pengantin, dan Batu Gajah yang masih terjaga hingga kini. Situs ini menarik wisatawan lokal maupun dari luar daerah.
Pulau Maspari
Pulau kecil di perairan Selat Bangka ini sedang dikembangkan sebagai objek wisata bahari oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Pulau Maspari memiliki terumbu karang, air jernih yang cocok untuk snorkeling, dan berperan sebagai lokasi konservasi penyu serta tempat singgah burung migran. Aksesnya memang masih terbatas karena lokasinya yang jauh dari pemukiman.
Kampung Warna-Warni di Sungai Komering
Di sepanjang aliran Sungai Komering, terdapat deretan rumah berusia ratusan tahun dengan arsitektur bergaya Eropa dan China. Rumah-rumah peninggalan sejarah ini kini dicat warna-warni dan menjadi spot foto yang cukup populer. Pemerintah daerah kerap menyelenggarakan acara di kawasan ini, termasuk lomba bidar (balap perahu tradisional) di Sungai Komering yang sudah menjadi tradisi tahunan saat perayaan kemerdekaan.
Rumah Limas Seratus Tiang dan Warisan Arsitektur Kayuagung
Di Desa Sugihwaras, tidak jauh dari pusat Kecamatan Kayuagung, berdiri Rumah Limas Seratus Tiang. Bangunan ini menampilkan arsitektur tradisional perpaduan Melayu, China, dan Arab, dengan ratusan tiang sebagai pondasinya. Di dalamnya tersimpan peninggalan antik seperti meja tamu dan kaca rias berwarna kuning dengan ukiran khas.
Menurut cerita turun-temurun, rumah ini dibangun oleh seorang raja sebagai hadiah bagi putrinya yang akan menikah. Untuk berkunjung, Anda cukup membayar tiket masuk sekitar Rp7.000. Rumah ini menjadi salah satu bukti bahwa Kayuagung punya sejarah perdagangan dan kontak budaya yang panjang dengan berbagai bangsa.
Infrastruktur dan Tantangan Pembangunan
Luasnya wilayah OKI menjadi tantangan tersendiri bagi pemerataan pembangunan. Kecamatan-kecamatan di bagian timur dan selatan, seperti Sungai Menang dan Cengal, selama ini relatif sulit dijangkau. Pemerintah provinsi sudah menargetkan pembangunan infrastruktur di wilayah-wilayah ini, termasuk jalan dan jembatan.
Konektivitas digital juga masih menjadi persoalan. Pada awal 2026, Pemerintah Kabupaten OKI bersama Telkomsel menggelar rapat aksi penanggulangan wilayah blankspot (tanpa sinyal) sebagai bagian dari percepatan transformasi digital. Di beberapa wilayah OKI, akses informasi dasar pun masih belum merata.
Di sisi lain, konektivitas Kayu Agung dengan Palembang sudah cukup baik berkat adanya jalan tol. Ini membuat ibu kota OKI menjadi area yang berkembang cukup pesat, termasuk dengan hadirnya destinasi wisata baru seperti Dinesti Land yang menawarkan waterboom, mini kebun binatang, dan area outbound.
Kabupaten dengan Banyak Lapisan
Ogan Komering Ilir adalah kabupaten yang sulit diringkas dalam satu label. Di satu sisi, ia adalah lumbung pangan dengan lahan pertanian lebih dari 150.000 hektare. Di sisi lain, ia menjadi garda depan konservasi gajah Sumatra lewat Suaka Margasatwa Padang Sugihan. Tradisi Midang dan arsitektur rumah-rumah tua di Sungai Komering menunjukkan kekayaan budaya yang masih hidup, sementara tantangan blankspot dan alih fungsi lahan mengingatkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.
Bagi Anda yang ingin mengenal Sumatera Selatan lebih dalam dari sekadar pempek dan Jembatan Ampera, Kabupaten Ogan Komering Ilir bisa jadi titik awal yang menarik.